2 days ago
Kanak-kanak : Ketika hidup terasa demikian mudah dan tanpa masalah… Ketika hidup terasa sangat aman dan nyaman… Ketika orangtua terlihat demikian tahu segalanya…
-Dimsum Terakhir, Clara Ng
2 weeks ago
Tentang Wina dan Wati
Tentang Wina dan Wati
Kamis Pahing, awal hari dibulan ini.
Waktu cepat berlalu, tetapi aku belum bisa berbuat banyak.
Aku, Wina. Hari ini tepat delapan tahun sudah, ayah meninggalkan kami─aku dan ibu. Malam ini harusnya kami sedih, tetapi rasanya tak ada waktu untuk itu. Aku masih sibuk di depan komputer tua peninggalan ayah, membuat berlembar-lembar surat lamaran kerja yang tak pernah ku buat serius. Rasanya konyol sekali, harus melamar pekerjaan, aku tak suka meminta-minta. Sedangkan Ibu, sibuk membuat adonan kue tradisional yang hendak dijualnya besok. Kasihan ibu, semoga kali ini lamaranku membuahkan hasil.
Ibu adalah wanita yang ulet, tak pernah aku lihat ia mengeluh tetapi entah apa yang ada dalam hatinya. Ibuku seorang tuna wicara, senyumnya ramah, tak pernah sekalipun ia memarahiku. Ia orang yang kuat, ketika ayah meninggal, aku melihatnya begitu tegar. Bahkan selama delapan tahun ini, ia lah yang menghidupiku seorang diri.
Dua jam di depan komputer, membuatku bosan. Surat lamaran tak kunjung selesai, bukan karena kesulitan membuatnya, tanganku ini tak suka mengetiknya. Kalau sudah begini, lebih baik aku minta tolong pacarku saja, Edo.
To : 0813XXXXXXXX
Text Message : Do, bikinin surat lamaran yah, seperti biasa tanganku enggan menyelesaikannya sayang :p
Setelah ada laporan terkirim, aku mulai membayangkan pacarku itu akan geleng-geleng kepala membacanya, pasti ia kesal tetapi berjanji membuatkan. Pasti lucu ekspresinya.
“Tok tok” sura pintu diketuk
“Sayaaaaaaaaang,” suara lelaki terdengar
Pasti Edo, suaranya amat ku kenal. Aku bergegas membukakan pintu.
Benar saja, itu Edo. Lelaki yang ku cintai walaupun menyebalkan. Ah begitupun hari ini, aku sebal padanya, aroma alkohol dari mulutnya amat menyengat membius hidungku. Mabok lagi, pasti.
“Aku nginep yah,” ujarnya langsung masuk rumah, tak sopan.
Ibu tak pejamkan mata melihatnya, Edo langsung masuk ke kamarku sambil menarik paksa tanganku.
“Kamu ini, ada Ibu kan di depan, sopan dikit!” ungkapku marah
“Haha Ibu mu tak pernah marah kan? Ia tak peduli padamu, seperti tetangga-tetangga mu yang sungguh individualis sekali. Kita bebas kumpul kebo.” Ucapnya tak karuan
Ini bagian yang amat tidak kusukai, menemani pacarku tidur ketika ia mabuk. Aku membencinya, apalagi bila ia mulai main tangan saat aku menolaknya. Terlebih harus mendengarkan caci makinya yang ditujukan pada Ibuku.
Setelah ia pulas tidur, aku menemui Ibu, ia masih sibuk dengan adonannya. Wajahnya menunduk ketika ku hampiri. Astaga,ia menangis. Ada apa dengannya, aku tak berani bertanya, apa mungkin karena aku yang bebas memasukan Edo ke rumah ini, dari sorot matanya aku tahu Ibu tak suka. Kalau ia sudah memberikan sorot mata seperti itu, aku biasanya tega memarahi Ibu ku sendiri. Mau bagaimana lagi, aku cinta Edo. Edo yang berperawakan tinggi, kurus, berkulit putih, tampan, tegas, walaupun ringan tangan, dan sering mempermainkanku. Tak ada alasan buatku mempertahankannya, hanya saja Edo pintar, ia politikus hati yang selalu membuatku terbuai dalam jebakan-jebakan liciknya. Ah lemahnya aku.
Sebenarnya dua bulan belakangan ini, aku coba mengkhianati Edo, aku mulai dekat dengan pria lain, Alex namanya. Alex adalah mahasiswa semester lima, ia sangat lembut padaku, aku sering menceritakan perlakuan Edo pada ku. Ia dengan gamblang menyatakan diri tak suka pada Edo, ia perhatian walaupun tak tampan. Aku suka, bahkan seminggu yang lalu aku menyatakan cinta padanya, sayang ia tak punya perasaan yang sama. Aku sedih, hal ini aku ceritakan pada Ibuku, tapi sayang Ibu hanya diam dan tersenyum datar mendengar ceritaku.
Kalau mengingat Alex, biasanya aku mengingat Ayah. Ia lelaki yang sangat lembut dengan keluarga. Ibu dan ayah terlihat harmonis. Kelak aku ingin seperti mereka. Huh, aku tak rela ayah harus meninggal dalam kecelakaan perjalanan dinasnya ke puncak delapan tahun lalu. Keluargaku sayang keluargaku malang.
***
Kamis Pahing, awal hari dibulan ini.
Waktu cepat berlalu, tetapi aku belum bisa berbuat banyak.
Aku, Wati. Janda beranak satu. Hari ini tepat delapan tahun sudah, suamiku meninggalkan kami─aku dan putriku. Malam ini harusnya kami sedih, tetapi rasanya tak ada waktu untuk itu. Aku sibuk membuat adonan kue tradisional yang hendak dijual besok, sedangkan putriku masih sibuk di depan komputer tua peninggalan Usman, suamiku. Ia membuat berlembar-lembar surat lamaran kerja yang tak pernah dibuatnya dengan serius. Ia selalu menganggap konyol melamar pekerjaan, menurutnya seperti meminta-minta. Kasihan putriku, sepertinya ia tak tega aku mencari nafkah sendirian. Semoga kali ini lamarannya membuahkan hasil.
Aku berusaha menjadi wanita yang ulet, tak akan pernah aku mengeluh di depan putriku. Sesungguhnya hatiku ini menyimpan beribu keluhan, jujur aku lelah. Aku seorang tuna wicara, agar terlihat ramah, aku terus memperlihatkan senyumku pada siapapun, terutama putriku. Sekalipun aku tak pernah memarahinya. Aku harus terlihat kuat dan tegar, terutama sepeninggalan suamiku. Bahkan selama delapan tahun ini, aku lah yang mencari nafkah seorang diri, mau tak mau harus mampu.
Dua jam di depan komputer, putrikuku terihat bosan. Aku perhatikan, surat lamarannya tak kunjung selesai, pasti bukan karena kesulitan membuatnya, ia hanya tak suka mengetiknya. Kalau sudah begini, pasti ia minta tolong pada pemuda yang diakui sebagai pacarnya itu, Edo.
Ya, aku yakin putriku itu memberi pesan text pada pacarnya. Tergambar jelas senyumnya itu, senyum yang sama saat aku muda dulu, saat hendak mengirimkan surat untuk Usman. Ah Usman, rasanya tak sudi membayangkannya kembali.
“Tok tok” suara pintu diketuk
“Sayaaaaaaaaang,” suara lelaki terdengar
Itu pasti pacar putriku, suaranya amat ku kenal. Putriku pun bergegas membukakan pintu.
Benar saja, dari kejauhan tampak Edo. Lelaki dungu yang menyebalkan. Demi apapun aku tak menyukainya. Pemuda tukang minum! Menjadikan rumahku tempat kumpul kebo seenak udelnya saja!.
Aku terus menyorotinya dengan tatapan tak suka, tapi ia tak peduli. Ia melengos masuk ke kamar putriku sambil menarik paksa tangannya. Rasanya dada ini sesak, putriku begitu lemah. Pemuda itu benar-benar tak sopan. Sungguh aku masih punya hati, hatiku teriris melihatnya. Kalau saja putriku bukan tipe yang tempramental, tentu aku sudah mengusirnya tiap kali ia kesini.
Dua jam kemudian, putriku datang menghampiri. Pasti pemuda brengsek itu sudah pulas tidur. Sial, sedihku ini tak dapat aku hentikan, air mata ini harus aku sembunyikan. Aku menunduk, tak ingin putriku tahu bahwa aku menangisinya. Aku yakin, putriku tahu, ia pasti menebak-nebak mengapa aku menangis. Semua tebakanmu benar sayang. Aku tak suka kau memasukan Edo ke rumah ini, bukankah terpancar dari sorot mataku?. Bahkan aku sedih bila kau tega memarahiku saat menunjukkan raut wajah tak senang saat ia datang. Aku tahu kau mencintai Edo. Edo yang berperawakan tinggi, kurus, berkulit putih, tampan. Ia arogan sayang bahkan ringan tangan, dan aku yakin, ia sering mempermainkanmu kan?. Tak ada alasan buatmu mempertahankannya. Ah pastilah si Edo licik, ia pandai membuat putriku terbuai dalam jebakan-jebakan liciknya. Lemahnya putriku.
Sebenaranya aku tahu dua bulan belakangan ini putriku mencoba melawan Edo, ia mulai dekat dengan pria lain, Alex namanya. Alex masih menjadi mahasiswa, tentu lebih berpendidikan. Sikapnya sangat lembut berbeda sekali dengan Edo. Aku setuju saja bila putriku berpindah hati. Tentu ia akan lebih nyaman dengan Alex. Alex perhatian tidak hanya padanya tapi juga padaku. Aku tahu putriku menyukainya, bahkan seminggu yang lalu putriku bercerita bahwa ia telah menyatakan cintanya pada Alex, sayang Alex tak punya perasaan yang sama. Aku sedih sebenarnya, tetapi wajar menurutku. Tentu saja Alex menolak cintanya. Usia putriku sembilan tahun diatasnya. Usia yang terlalu matang untuk dijadikan seorang pacar oleh mahasiswa. Aku hanya bisa diam dan tersenyum datar saat mendengar ceritanya.
Kalau mengingat alex, pikiranku menerawang. Aku yakin putriku bahagia. Terkadang aku malah membayangkan Usman. Usman, lelaki yang telah berhasil membuatku berbohong pada putriku sejak ia kecil. Aku harus memperlihatkan hubungan kami yang harmonis, ah kondisi klise harus kubuat tiap harinya. Usman, politikus hati yang licik. Orang tak tau sifat jeleknya itu, dibelakangku dan putriku ia main hati dengan perempuan lain. Ketika meninggalpun, ia sedang berada dalam perjalanan menuju rumah perempuan simpanannya. Tetapi ia berhasil meyakinkan putriku sebelum ia berangkat, ia bilang akan dinas ke puncak. Semoga suatu saat putriku tak mengalami hal yang sama. Keluargaku sayang keluargaku malang.
Ditulis oleh : Sri Noviyanti
Nb : Kesamaan cerita, nama dan karakter hanyalah fiktif belaka
Dipersembahkan khusus untuk seorang teman pengagum Morrissey
3 months ago
Kaleidoskop Dalam Surat
Sebuah surat datang pada saya, terlipat rapi di atas meja rias lengkap dengan amplop tebuka disampingnya. Isinya tak panjang, hanya sekelumit saja, tapi berhasil membuat penasaran hingga saya ingin membacanya sampai habis..
Jumat siang, tepat pukul 11.38. Ketika dari kejauhan terdengar suara-suara dari mesjid bersautan, sambutan untuk solat Jumat. Aku merenung hebat, berkontemplasi sendiri tanpa ampun. Banyak yang aku takutkan minggu ini, takut terjebak dalam pikiran dan keputusan-keputusan yang telah ku buat. Biar lebih lengkap, ku buat kaleidoskop keputusan-keputusanku beberapa bulan terakhir.
10 November 2011
Aku menetapkan diri agar bercita-cita menjadi dokter; dokter hewan khusus kucing
27 November 2011
Aku pindah haluan, ku letakkan cita-cita terdahulu untuk kemudian memilih masa depan sebagai seorang designer
9 Desember 2011
menentang keputusan sebelumnya untuk kemudian bercita-cita menjadi guru
13 Januari 2012
mengingat banyaknya beban yang akan diemban oleh seorang guru dengan tanggungjawab penuh, maka aku mengurungkan cita-cita mulia itu, dan memilih hendak menjadi petani saja
2 Februari 2012
membayangkan kemungkinan terburuk, tak ada lahan kosong lagi di Indonesia kemudian hari, petani malang, aku pun menantang diri untuk menjadi presiden
1 Maret 2012
tantangan itu pun akhirnya tak jadi ku terima. Presiden bukanlah cita-cita yang strategis. Akhirnya aku menetapkan cita-cita sebagai penulis. Aku bisa bebas, dan menjadi siapa saja, bahkan dapat membuat sejarahku sendiri dan bermanfaat bagi banyak generasi, yaa..
“Jika kau ingin bermanfaat bagi satu generasi jadilah Guru, tapi bila kau ingin bermanfaat bagi banyak generasi jadilah Penulis.” (NN)
“Bila engkau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar (yang intinya engkau hanya anak orang yang sangat-sangat biasa) maka Menulislah.” (Al Ghozali)
“Kita menulis, hidup kita tertulis.”(Pramoedya Ananta Toer)
akan banyak kaleidoskop yang akan ku tuliskan disini nantinya, bukan untuk mengubah cita-citaku lagi, tapi untuk memulai mendapatkannya.
3 months ago
Because I’m a Woman (Karena Aku seorang Wanita)
Percaya padaku. Ini karena aku adalah seorang wanita. Jika aku memiliki janggut dan kumis pun, nasib tak akan memperlakukanku begitu keras. Bagaimanapun, aku cukup cerdas.
“Klise„” gumamku. tetapi karena amplop surat terlanjur berada di tong sampah dan tidak akan ku angkat sebelum 10 menit kemudian, ku putuskan untuk membacanya sebentar lagi. berharap akan ada suatu keajaiban.
12 tahun yang lalu, langit mendung merundungi ayahku. Pabrik sirup miliknya yang telah diusahakan seumur hidupnya, bangkrut. Akumulasi hutangnya, berada pada nilai yg sangat tinggi hingga mencoreng nama baik keluarga, kami tak dapat melunasi kecuali kami memiliki telur angsa emas yang dapat dijual.
Ayah menjerat seluruh anggota keluarga dalam perjalanan menuju kemiskinan yang lebih dalam. Akhirnya bencana itu datang, kami hidup tanpa atap dan harus tidur dalam udara yang terbuka. Bahkan, badan Ibu menyusut drastis walaupun ia tidak sedang diet atau rutin olahraga. Naas, kedua kakakku malah sibuk berlomba-lomba menjadi pemabuk, dan terus menghabiskan waktu mereka di rumah teman-temannya.
Dalam keadaan genting seperti ini, ayah berpikir cepat agar menemui jalan keluar, apa yang harus dikorbankan agar keluarga kami (setidaknya) mendekati status normal. Menurutnya dalam pikiran rasional, pengorbanan yang dilakukan haruslah (setidaknya) dapat mensejahterakan seluruh anggota keluarga. Tak ada jalan lain, semua jalan keluar yang ia pikirkan mengharuskan ada pengorbanan harga diri, sedikit mengangkat kedudukan sosial, dan tentunya sebagian rasa cinta ku.
Ini mengerikan, tapi kenyataannya tak ada yang lebih bernilai lagi waktu itu-kami hanya memiliki kursi goyang yang sudah tua, ibuku, dan aku. Tidak ada gunanya menghitung kedua kakakku-mereka hanya bisa lari dari masalah. Menurut ayah, aku lah yang harus dikorbankan.
Aku kecewa sekali, tetapi dalam pandangan ayah ide itu rasional. Situasi kami tidak memungkinkan untuk menjual ibu menjadi budak seks-dia sudah tidak cantik lagi- dan kursi goyang itu hanya menghasilkan uang sedikit bila dijual.
Aku amat sangat memprotes keputusannya, ayah yang aku banggakan mengapa tega padaku? Siapa juga yang akan kuat? Kadang aku mengeluh padanya, mengapa ia tak menjajakan kakak-kakakku saja untuk bekerja? Mereka memiliki fisik yang kuat, sayang mereka tak pernah peduli akan nasib kami, mereka terus minum dengan perasaan tak berdosa. Tapi ayah tak acuh, aku yakin ayah sebenarnya tak dapat mematahkan argumenku kecuali pernyataannya bahwa karena aku adalah seorang wanita. Ya semua yang aku ceritakan padamu adalah benar adanyah,
semua terjadi karena aku adalah seorang wanita.
Apakah ini selalu benar? Ujarku. “Cerita wanita ini sungguh mengada-ada.” Bahkan aku mulai berpikir akan menulis 20 surat berjudul ‘Karena Aku adalah seorang Lelaki’. Dunipun tak mungkin membuat pilihan dari dugaan yang dibuatnya sendiri.
Bagaimana bisa hukum alam memungkinkan hanya mendukung satu sisi? Alam itu netral. Aku selalu percaya bahwa di dunia ini tak ada intrinsik baik atau buruk. Apapun namanya, hal tersebut tak dapat dipilih hanya karena sifatnya yang kuat. Omong kosong!
Maksudku, coba kau analogikan, kau tak dapat mengatakan bahwa musim kemarau itu buruk hanya karena sangat kering. Atau hujan itu baik karena hujan. Apapun baik/buruknya tergantung niatmu. Jika kau hendak menerbangkan layang-layang maka hujan itu buruk dan musim panas itu baik. Sebaliknya, bila kau sedang menginginkan udara yang lembab, maka hujan menjadi baik. Harus seperti itu!
Ku gulung suratnya dan kuletakkan bersama penghuni laci lainnya. Tapi, pagi berikutnya, karena telah pukul 9 dan surat kabar tak kunjung datang, ku ambil kembali suratnya dan ku lanjutkan membacanya;
Akhirnya, aku menyerah dan membiarkan diriku menjadi istri ketiga seorang lelaki kaya bernama Dargo. Pada waktu itu, aku tidak tahu benar sejauh mana hubungan ayah dengannya, hanya mereka yang tahu. Sebenarnya terlambat, tapi lu baru tahu bahwa ayah banyak hutang karena judi. Bagaimanapun keputusan ayah, mengkhawatirkan bagiku. Aku tak tahu jenis permainan apa ini. Aku harus menjadi istri seorang pria yang umurnya tiga kali lipat diatasku.. Dengan jaminan, ayahku bebas dari hutang-hutangnya dan aku dapat melanjutkan pendidikan ku hingga aku menjadi guru nantinya. Saat itu aku berumur 17 tahun dan masih bercita-cita mengajar. Sebagai istri Dargo pun, aku punya satu tugas: memberikannya seorang anak, karena kedua istrinya yang lain tak dapat memberikannya
Dargo bukanlah tipe pria yang tampan dan baik hati. Seperti selentingan yang aku dengar dari istri pertamanya, Nani. Entah apa yang membuat Nani bersedia menikah dengannya, bahkan keadaan orang tua Nani ku rasa lebih baik, satu-satunya alasan ku rasa karena dia benar-benar mencintai Dargo.
Setelah tiga bulan menjadi istri Dargo, aku tetap tak hamil. Satu-satunya yang membuat perutku mual bukanlah karena aku hamil melainkan ketika aku harus tidur dengannya. Di saat seperti ini, Dargo mulai menyalahkanku.
Ketika ulangtahunku yang ke 23, ketika tak seorangpun yang ingat ataupun mempedulikannya, Dargo justru menceraikanku. Tau kah kau, saat itu aku tak memiliki uang, bahkan ia telah lama tak menafkahkanku. Sebenarnya aku tahu alasannya, ia hendak menikah lagi. Ya ujian ini ternyata belum selesai.
Segalanya terjadi karena aku adalah seorang wanita.
“Sampah!” ungkapku jengkel. Mengapa wanita ini begitu ceroboh dalam berkesimpulan? Mengapa ia menjelaskan segala masalahnya terjadi karena ia adalah seorang wanita, padahal bukan itu masalahnya. Ia menjadi barisan orang yang rapuh, itu masalah sesungguhnya. Wanita tak seharusnya berada dalam barisan yang lemah. Ah! Wanita selalu memperlihatkan kelemahannya, sebenarnya ini bukanlah masalah wanita!. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Masalahnya satu, kelemahak. Ini adalah masalah manusia, sebuah masalah yang terus menjadi ujian para nabi. Ini bukan masalah gender. Wanita dan pria bisa sama-sama lemah, tetapi mengapa orang-orang taat selalu mendesak dirinya untuk terus berada dalam kelemahan!
Aku gulung suratnya kembali, dan menaruhnya dalam laci lagi.
Malam itu, serial TV favoritku tak ditayangkan, oleh karena itu ku lanjutkan membaca surat.
Dengan ‘berbagai cara’, aku atur untuk melanjutkan pendidikanku, dan akhirnya aku berhasil menjadi guru. Ya terlepas baik/buruknya diriku. Tapi ketika aku bilang aku telah mendapat gelar melalui cara apapun, aku sungguh mengartikannya secara harfiah . Jangan kaget dulu. Aku harap kau tau maksudku. Ini begitu penting bagiku, meraih impian masa kecilku.
Dan juga setelah tahun-tahun hampa yang aku lewati, akhirnya aku mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu atas diri ku sendiri. Aku tak sabar mengajar dikelas, untuk menghidupkan kembali masa lalu yang ku lewati. Aku telah mengorbankan diriku dan jiwa muda ku untuk dikalahkan oleh kehidupan. Aku coba keluar dari sana, tidak hanya menuju perbaikan krisis hidupku. Tapi juga untuk pertama kalinya aku mendapatkan pekerjaan.
Seiring berjalannya waktu, dan masih dengan ‘berbagai cara’, aku diterima sebagai guru di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya, benar-benar menyenangkan, sebelum akhirnya ada statement muncul: ‘Perempuan nakal, seorang janda sepertinya tak seharusnya mengajar anak-anak.’ Namaku tertulis di dinding dengan julukan ‘guru seksi’ disampingnya, ini benar-benar membuatku gusar.
‘Biarkan mereka berkata apapun,’ ujarku menenangkan diri. Aku tak peduli. Ini pekerjaanku yang ku lakukan untuk nafkahku, anak-anakku. Ups, anak-anakku? Aku tekankan, bahwa aku tak memiliki anak dari Dargo, dan ini bukan hanya skenario belaka. Apapun yang terjadi pada Dargo bukanlah kesalahanku. Itu pasti, tapi ada alasan yang membuatku cemas. Apakah Tuhan tak memberikan kepercayaan agar aku memiliki anak?
Segala yang ku inginkan hanyalah menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk muridku, sebagai tempat untuk mereka tumbuh dan berkembang. Ada perasaan berbeda ketika aku menghabiskan waktu ditengah mereka. Seperti dendam masa muda yang harus ku bayar. Beberapa muridku nakal, agak kasar, tetapi tak akan ku biarkan kenakalannya dibiarkan terlalu lama. Hanya anak-anak, memang masanya seperti itu.
Murid-muridku kadang menggangguku, dan walaupun tak sering, kadang mereka membuatku terharu. Aku terbuka dengan mereka dan memancing mereka agar selalu nyaman bercerita padaku, datang ke rumahku untuk sharing. Ya banyak dari mereka yang melakukan itu. Mereka bercerita mengenai apapun, mengenai pacarnya hingga orangtua yang keras. Aku suka mendengar cerita mereka-terdengar sepele tetapi seperti masalah yang krusial bagi mereka. Hal seperti itu merupakan waktu-waktu yang membuatku bahagia.
Salah satu muridku yang rajin berkunjung ke rumah adalah Gani, seorang ketua genk di sekolah. Dia adalah seorang pembangkang dan sukar diajari, tetapi ketika semua guru mengusulkan mengeluarkannya, tidak denganku. Bukan karena aku orang baik, tapi karena aku penasaran dengannya. Aku yakin ada beberapa hal yang tidak diketahui dibalik perilaku aneh seorang anak laki-laki.
Tapi pada satu waktu, dimana aku hampir menemui pangkal masalah. Dan Gani berjanji tak akan berkelahi lagi, suatu hari, ia malah berkelahi dengan siswa sekolah tetangga yang umurnya lebih tua darinya. Aku heran, ia bingung memberi alasan mengapa kembali berkelahi, sampai ia diusir. Dan aku, seorang penjamin bahwa ia tak akan kembali berkelahi sebelumnya, kembali meminta agar ia diberi kesempatan sekali lagi.
Aku tak percaya, setelah itu lahirlah rumor busuk mengenai statusku, gosip, dan cerita yang membuatku sedih terus berlanjut. Setelah beberapa kali diskusi dengan para staff di sekolah, diskusi yang menurutku tak membuahkan keputusan terbaik, akhirnya diputuskan bahwa aku harus meninggalkan sekolah ini. Alasannya, performa dan kedisiplinanku amat buruk. Aku tak ingin membela diri, ya tak ingin mengulang kembali keadaan 12 tahun yang lalu ketika harus berdebat dengan ayahku dan tak menghasilkan apa-apa. Dugaanku,
ini semua terjadi karena aku adalah seorang wanita.
Di hari akhirku di sekolah, aku berpamitan dengan guru-guru dan ruang mengajar sesaat, tempat murid-muridku berada, tempatku mencari nafkah, disana aku duduk sebentar mengikuti pelajaran mereka. Lalu aku berjalan pelan menapaki lorong sekolah.
Tiba-tiba, terdengar teriakan seorang murid, aku menoleh dan melihat Gani berada disampingku, matanya merah. ‘Maaf,’ ujarnya padaku, sambil menahan tangis, ‘tapi ketika aku berkelahi waktu itu karena bajingan itu menyebutmu sebagai korban perceraian.’
Aku tak berkata apa-apa. Aku hanya mengelus kepalanya dan memberinya sdoyum kecil. Kemudidan, lagi dan lagi murid-muridku berkumpul mendekatiku. Dari kejauhan terdengan teriakan gusar seorang guru dari dalam kelas, menyuruh mereka kembali. Tapi sekuat apapun, jiwa-jiwa muda murhd-muridku ikut menguatkan aku. Mereka mulai menggerak-gerakkan tanganku seakan menyuruhku agar lebih kuat. Beberapa murid perempuanku melihat dengan mata berkaca-kaca.
Kini, aku tulis surat ini untuk sebuah rumah yang disewa oleh seorang pejabat negara untuk menunjukkan, aku lebih memperlihatkan kehidupanku bukan sebagai sesuatu yang baik/buruk, tetapi sebagai sebuah simfoni. Nikmati saja, bagaimanapun yang akan terjadi, indah ataupun menyedihkan harus dijalani.
Mungkin aku sanggup menjalaninya karena aku adalah seorang wanita.
Kali ini aku tak akan kembali melipat suratnya.
*)Teks asli cerpen ini berbahasa Indonesia ditulis oleh Jatmiko Sakyartoro,
dan telah diterjemahkan ke dalam b.inggris oleh Anna Nettheim
(dalam buku Menagerie 5)
**)saya menerjemahkannya kembali karena tidak mendapat teks aslinya,
maaf bila ada yang janggal, semoga tak salah paham
dan selamat membaca :D
4 months ago
ceritaisiKucing #1
“Bosi sini, ada sisa makanan untukmu!” teriak ibu gendut padaku, selalu saja panggilan itu membuatku merutuk dalam hati. Bosi, aku bersumpah demi apapun bukanlah nama yang ku inginkan. Heran, mengapa pemeliharaku akhirnya menyemayamkan nama itu padaku.
Namanya aneh, memberi kesan sombong pada diriku yang rendah hati ini. Aku malu pada teman-teman ku kelak diluaran sana. Mengapa nama Bosi tidak mereka berikan saja pada anak kecil berponi yang kelihatan nakal, yang biasa disebut si ibu gendut dengan panggilan “Si Bontot”. Buat ku setidaknya bosi lebih baik daripada bontot. Entah bahasa apa.
Si Bontot mendekatiku, oh tidak. anak kecil seperti dia pasti hanya ingin menjadikanku mainan saja. Ia akan dengan ceria memainkan buntut panjangku ini,
“Unai, makan ini” ucapnya sambil menaruh semangkuk kecil nasi campur yang entah sudah diaduk dengan apa.
Unai? sebutan apalagi itu. Hmm tapi sedikit lebih baik daripada bosi
“Namanya Bosi nak” si Ibu Gendut mulai nimbrung
“Unai aja, warna nya kuning bu bagusan Unai,” ungkapnya polos.
Hatiku tergelitik, anak kecil ini tak seperti anak kebanyakan yang ingin mempermainkanku. Matanya tak bisa berbohong, dia terlihat menyayangiku.
Aku mendekati mangkuk bawaannya, aroma ikan menusuk hidungku membuatku terbuai semakin cepat mendekat. Tanpa merasakan rasa sebenarnya, dapat kupastikan aku sangat menyukainya.
Aku mulai memakannya dengan lahap, mangkuk kosong dengan sekejap.
lelah mengunyah, aku mulai mengantuk. Sambil membersihkan mulutku dari sisa makanan, aku memerhatikan anak kecil itu.
“Unai..,” ucapnya dengan senyum lebar tanpa ekspresi, terus ku perhatikan tingkahnya.
Andai bahasa kita tak berbeda, mungkin aku akan senang hati berbicara dengannya.
“Apa Unai? udah kenyang kan? nanti malam mau makan apa? biar aku belikan,” rasanya ingin sekali tertawa keras.
Ia tak berhenti berbicara, padahal mengeluarkan suara saja aku tidak.
Aku hanya menatap matanya langsung dengan ekspresi datar, sesekali ku berikan ekspresi curiga.
“Iyaaa, aku akan selalu jadi temanmu Unai sayang,” ucapnya kemudian. Ia terus berbicara seakan-akan aku membalas ucapannya.
Benar kata ibu ku dulu, mata kami memang selalu menggambarkan beribu-ribu pertanyaan.
Tuhan memang menciptakannya seperti itu.
to be continue
4 months ago
You’re free to be whatever you
Perempuan itu tengah sadar. Pukul 12.47 pm, ia membuka matanya. Terlelap lebih dari sembilan jam membuatnya pening. Matanya sayu, cocok bersanding dengan kaos biru lusuh yang dikenakannya. Dua menit kemudian tangannya cekatan menyusuri bawah bantal, alas kepalanya.
Ada satu pesan singkat yang ia cermati.
“Jangan dipakai lagi kaos Kurt Cobain nan lusuh itu! Ia tokoh mengerikan dan memalukan. menjadikan diri pelaku sekaligus korban pembunuhan itu adalah tindak kriminal bagi diri sendiri. Terlalu bodoh!”
Pengirim : Pemilih Kebebasan.
Perempuan penerima pesan itu hanya tersenyum kecut. Bodoh pikirnya, si Pemilih Kebebasan sudah mengkhianati cap dirinya sendiri. Pemilih Kebebasan nyatanya terkungkung akan simbol-simbol buatan manusia. Dia tidak bebas dalam arti yang sebenarnya. Kaos lusuh dengan sablon Kurt. Donald Kobain dan biodata singkat disampingnya tentu tak mudah membuat perempuan itu masuk dalam labirin yang dangkal.
Tak melulu kita harus memandang orang dari ketidakberhasilan hanya pada satu sisi. Ada kalanya keputusan yang orang anggap patut disesali justru memberi kepuasan tersendiri bagi si pengambil keputusan itu sendiri.
“Ah sektarian!,” umpatnya.
Tak ada yang tahu kapan orang lain memutuskan menyerah atau melawan. Kalau kematiannya justru adalah perlawanan, siapa yang tahu?
4 months ago
5 months ago
dreamerbbe asked: Heeey ^^ thx for follow ♥♥ u are soo swet and cute (: followed back ^^ ♫
as cute as ur tumblr .. hehehhee thx





